JAWABAN TAKE HOME EXAM SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Pertanyaan No. 1

Apa yang membedakan pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi? Jelaskan! 

Jawaban :

Software merupakan suatu program komputer yang terdiri dari urutan perintah atau prosedur untuk tujuan tertentu yang menjembatani keinginan pengguna dengan perangkat keras teknologi informasi. Definisi software menurut IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) adalah sebuah program, prosedur, data dan semua dokumentasi yang berhubungan dengan operasi pada sistem komputer dengan kata lain software merupakan kumpulan dari object membentuk konfigurasi yang didalamnya termasuk program, dokumen, dan data. Pengembangan software meliputi seluruh rangkaian proses pengembangan perangkat lunak mulai dari tahap spesifikasi, perancangan, pemrograman, implementasi hingga pada tahap pemeliharaan. Proses tersebut membahas semua aspek produksi perangkat lunak dengan tujuan untuk menghasilkan perangkat lunak yang sesuai dengan kebutuhan pengguna dengan metode pengembangan dan waktu yang tepat.

Sementara itu sistem informasi adalah suatu sistem yang komprehensif dan terintegrasi yang terdiri dari kumpulan subsistem-subsistem yang melakukan transformasi data menjadi informasi untuk mendukung kegiatan operasional, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi. Komponen sebuah sistem informasi antara lain terdiri dari SDM (People), hardware, software, data, network, dan produk informasi. Sistem informasi menurut O’Brien adalah sebuah kombinasi dari sumber daya manusia, perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), jaringan dan sumberdaya data yang mengumpulkan dan mentransformasi informasi didalam suatu organisasi. Adapun Pengembangan Sistem Informasi merupakan proses untuk menghasilkan sistem informasi untuk meningkatkan pengelolaan dan pengendalian komponen sistem informasi yaitu sumber daya manusia, hardware, software, jaringan, sumberdaya data dan produk informasi).

Pengembangan software atau aplikasi perangkat lunak merupakan bagian dari pengembangan sistem informasi, sedangkan pengembangan sistem informasi merupakan pengembangan total terhadap seluruh komponen yang membentuk sistem informasi yang terduri dari komponen sumber daya manusia, hardware, software, jaringan, sumberdaya data dan produk informasi.  

Serangkaian aktivitas yang dilaksanakan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sistem informasi dimana didalamnya terdapat proses pengembangan software. dapat dijelaskan dalam gambar berikut ini.

  

 

Tahap pengembangan sistem informasi terbagi atas enam fase, yaitu :

 

  1. Perencanaan system

Selama fase ini dipertimbangkan faktor-faktor kelayakan (feasibility factors) yang berkaitan dengan kemungkinan berhasilnya sistem informasi yang dikembangkan digunakan serta faktor-faktor strategis (strategic factors) yang berkaitan dengan pendukung sistem informasi dari sasaran bisnis.

  1. Analisis system

Dilakukan proses penilaian, identifikasi dan evaluasi komponen dan hubungan timbal-balik yang terkait dalam pengembangan sistem; definisi masalah, tujuan, kebutuhan, prioritas dan kendala-kendala sistem; ditambah identifikasi biaya, keuntungan dan estimasi jadwal untuk solusi yang berpotensi.

  1. Perancangan sistem secara umum / konseptual

Menerangkan secara luas bagaimana setiap komponen perancangan sistem tentang output, input, proses, kendali, database dan teknologi akan dirancang. Perancangan sistem ini juga menerangkan data yang akan dimasukkan, dihitung atau disimpan. Perancang sistem memilih struktur file dan alat penyimpanan seperti disket, pita magnetik, disk magnetik atau bahkan file-file dokumen. Prosedur-prosedur yang ditulis menjelaskan bagaimana data diproses untuk menghasilkan output.

  1. Evaluasi dan seleksi system

Dalam fase evaluasi dan seleksi sistem ini nilai kualitas sistem dan biaya/keuntungan dari laporan dengan proyek system dinilai secara hati-hati dan diuraikan dalam laporan evaluasi dan seleksi sistem.

  1. Perancangan sistem secara detail

Fase perancangan sistem secara detail menyediakan spesifikasi untuk perancangan secara konseptual. Pada fase ini semua komponen dirancang dan dijelaskan secara detail.

  1. Pengembangan Perangkat Lunak (software) dan Implementasi system

Adalah sekumpulan aktifitas yang terstruktur yang dibutuhkan untuk pengembangan atau evolusi software. Aktifitas umum dalam software processes diantaranya :

  • Validation – Pemeriksaan apakah software memenuhi kebutuhan customer
  • Evolution – Perubahan software terhadap perubahan kebutuhan
  • Specification – Apa yang harus dikerjakan sistem dan batasan pengembangannya
  • Development – Produksi dari sistem software

 

Software process model adalah representasi sederhana dari software process, yang dipresentasikan dari sudut pandang tertentu. Contoh dari sudut pandang proses diantaranya :

  • Workflow perspective – sequence of activities
  • Data-flow perspective – information flow
  • Role/action perspective – who does what

 

Model proses secara umum terdiri dari :

  • The waterfall model, memisahkan dan membedakan tahapan-tahapan spesifikasi dan pengembangan.
  • Evolutionary development, specifikasi dan pengembangan saling berselakan
  • Formal systems development, model sistem matematika yang secara formal diubah untuk di implementasikan
  • Reuse-based development, sistem dibangun dengan menggunakan komponen-komponen yang sudah ada

 

  1. Pemeliharaan / Perawatan Sistem

Pada fase ini sejumlah tugas harus dikoordinasi dan dilaksanakan untuk memastikan system yang telah terpasang dapat berjalan dengan baik.

Pertanyaan No. 2

Seringkali terjadi suatu kesalahan besar yang berakibat fatal pada organisasi, ketika mereka melakukan pengalihan atau konversi dari suatu sistem lama ke sistem yang baru. Jelaskan mengapa fenomena ini terjadi! Jelaskan pula berbagai cara dalam pengkoversian sistem, dengan berbagai asumsinya agar kesalahan tersebut tidak terjadi. Jelaskan !

 

 

Jawaban:

Kegagalan pelaksanaan konversi dari sistem lama ke sistem yang baru umumnya terjadi karena dengan adanya perubahan dari sistem lama ke sistem baru terdapat suatu masa transisi atau perubahan yang menuntut dilakukannya beberapa penyesuaian atau adaptasi dari sisi pengguna. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh :

  1. Belum siapnya sumber daya untuk mengaplikasikan system yang baru.
  2. System baru sudah terpasang, namun terdapat kesalahan prosedur dalam pelaksanaanya, sehingga perubahan tidak dapat terjadi. Sehingga keberadaan system baru justru mempersulit kinerja yang sudah ada.
  3. Level kematangan perusahaan terhadap TI masih rendah.
  4. Perencanaan dan aplikasi sistem Informasi tidak memiliki arah dan tahapan yang baik.
  5. Tidak ada komunikasi yang baik diantara vendor sebagai penyedia IT dengan perusahaan sebagai pengguna, sehingga system baru yang terbentuk menjadi tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna.
  6. Perusahaan memandang perubahan teknologi merupakan hal yang harus dilakukan agar perusahaan tidak ketinggalan zaman. Namun sebenarnya perusahaan tidak membutuhkan teknologi tersebut.

Sedangkan dari sisi prosesnya, fenomena kegagalan konversi tersebut dapat disebabkan oleh :

  1. 1.       Aspek Manusia

Semakin banyak unsur manusia yang terlibat dalam aktivitas pemasukan, pengorganisasian, pemeliharaan, dan pengawasan data, akan meningkatkan potensi terjadinya kesalahan yang berpengaruh pada kualitas data yang disimpan, yang berarti akan memperbesar risiko kesalahan yang terjadi dalam proses pengalihan tersebut;

  1. 2.       Aspek Kebijakan

Semakin tidak adanya kebijakan standar di perusahaan yang selama ini dipergunakan sebagai acuan dalam proses pengelolaan data, semakin sulit menentukan strategi migrasi yang tepat, yang berarti mempertinggi resiko implementasi skenario pengalihan; dan lain sebagainya.

  1. 3.       Aspek Data

Semakin kompleks struktur, model, dan arsitektur data yang ingin dipindahkan, semakin sulit mekanisme pemetaan dan pemindahannya, yang berarti semakin tinggi resiko yang dihadapi;

  1. 4.       Aspek Aplikasi

Semakin berbeda platform, sistem, atau standar sistem aplikasi baru dibandingkan dengan sistem aplikasi yang lama, semakin sulit proses migrasi dilakukan, yang berarti akan memperbesar resiko yang dihadapi;

  1. 5.       Aspek Teknologi

Semakin tersebar bentuk atau topologi perangkat keras dan jaringan yang merupakan lokasi penyimpanan data, semakin sulit aktivitas pemetaan data yang harus dilakukan, yang berarti akan mempertinggi risiko yang dihadapi;

Untuk mengurangi resiko kegagalan yang terjadi saat pergantian sistem, terdapat 4 metode konversi yang dapat dilakukan guna mempermudah pengenalan sistem baru ke dalam organisasi dan meningkatkan keberhasilan proses konversi.

  1. 1.       Konversi Langsung (Direct Conversion/Plunge Strategy)

Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru. Cara ini merupakan yang paling berisiko, tetapi murah. Konversi langsung adalah pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama, sehingga apabila konversi telah dilakukan, maka tak ada cara untuk balik ke sistem lama.

Pendekatan konversi ini sesuai untuk kondisi-kondisi sebagai berikut:

  1. Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain.
  2. Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai.
  3. Sistem yang baru berukuran kecil atau sederhana atau keduanya.
  4. Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem – sistem tersebut tidak berarti.

 

  1. 2.       Konversi Paralel (Parallel Conversion)

Pada konversi ini, sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan.

Cara seperti ini merupakan pendekatan yang paling aman, tetapi merupakan cara yang paling mahal, karena pemakai harus menjalankan dua system sekaligus. Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa période waktu. Dalam mode konversi paralel, output dari masing-masing system tersebut dibandingkan, dan perbedaannya direkonsiliasi.

 

  1. 3.       Konversi Bertahap (Phased Conversion)

Konversi bertahap dilakukan dengan menggantikan suatu bagian dari sistem lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Dengan pendekatan seperti ini, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru.

Cara seperti ini lebih aman daripada konversi langsung. Dengan metode phased conversion, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, dan secara perlahan menggantikan sistem lama. Konversi bertahap dapat menghindarkan risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk beradaptasi terhadap perubahan. Untuk menggunakan metode phased conversion, sistem harus disegmentasi.

  1. 4.       Pilot conversion

Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah. Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasi yang mencoba mengembangkan sistem baru. Kalau metode phase-in mensegmentasi sistem, sedangkan metode pilot mensegmentasi organisasi.

  1. Resiko lebih rendah dibandingkan metode konversi langsung.
  2. Biaya lebih rendah dibandingkan metode parallel.
  3. Cocok digunakan apabila adanya perubahan prosedur, hardware dan software

 

Langkah-langkah yang harus dilakukan perusahaan untuk menghindari kesalahan konversi sistem informasi :

  1. Menciptakan sinergi diantara subsistem yang mendukung pengoperasian sistem sehingga akan terjadi kerjasama secara terintegrasi diantara subsistem-subsistem ini. Asumsi hanya akan tercapai apabila para perancang sistem ini mengetahui masalah-masalah informasi  apa yang ada di perusahaan dan yang harus segera di selesaikan. Biasanya para perancang sistem ini akan mulai pada tingkat perusahaan, selanjutnya turun ke tingkat-tingkat sistem.
  2. Lihat kembali dan koreksi visi yang ingin di bangun, pelajari implementasi apa yang belum maksimal dan latih sumber daya manusia agar mampu mengoptimalkan peranti yang sudah dibeli. Hal ini hanya akan mungkin untuk dilaksanakan apabila pimpinan perusahaan mengetahui tentang TI/sedikit tentang TI, sehingga dia paham apa yang ingin dicapai perusahaannya dengan mengaplikasikan TI ini.
  3. Para perancang Sistem Informasi harus menyadari bagaimana rasa takut di pihak pegawai maupun manajer dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan proyek pengembangan dan sistem operasional. Manajemen perusahaan, dibantu oleh spesialis informasi, dapat mengurangi ketakutan ini dan dampaknya yang merugikan dengan mengambil empat langkah berikut :
  4. Menggunakan komputer sebagai suatu cara mencapai peningkatan pekerjaan (job enhancement) dengan memberikan pada komputer tugas yang berulang dan membosankan, serta memberikan pada pegawai tugas yang menantang kemampuan mereka.
  5. Menggunakan komunikasi awal untuk membuat pegawai terus menyadari maksud perusahaan. Pengumuman oleh pihak manajemen puncak pada awal tahap analisis dan penerapan dari siklus hidup sistem merupakan contoh strategi ini.
  6. Membangun hubungan kepercayaan antara pegawai, spesialisasi informasi dan manajemen. Hubungan tersebut tercapai dengan sikap jujur mengenai dampak-dampak dari sistem komputer dan dengan berpegang pada janji. Komunikasi formal dan penyertaan pemakai pada tim proyek mengarah pada tercapainya kepercayaan.
  7. Menyelaraskan kebutuhan pegawai dengan tujuan perusahaan. Pertama, identifikasi kebutuhan pegawai, kemudian memotivasi pegawai dengan menunjukkan pada mereka bahwa bekerja menuju tujuan perusahaan juga membantu mereka memenuhi kebutuhan mereka.

 

 

 

Pertanyaan No. 3

 

Apa urgensi maintainaibility dari suatu software? Jelaskan!

 

Jawaban:

Software maintenance menjadi urgen karena setiap system memerlukan usaha perbaikan secara berkelanjutan untuk mempertemukan kebutuhan organisasi terhadap sistem dengan kinerja sistem yang telah dibangun. Pemeliharaan software atau software maintenance, bertujuan untuk :

  1. Memperbaiki Kesalahan (Correcting Errors)

Maintenance dilakukan untuk mengatasi kegagalan dan permasalahan yang muncul saat sistem dioperasikan. Sebagai contoh, maintenace dapat digunakan untuk mengungkapkan kesalahan pemrograman (bugs) atau kelemahan selama proses pengembangan yang tidak terdeteksi dalam pengujian sistem, sehingga kesalahan tersebut dapat diperbaiki.

  1. Menjamin dan Meningkatkan Kinerja Sistem (Feedback Mechanism)

Kajian pasca implementasi sistem merupakan salah satu aktivitas maintenance yang meliputi tinjauan sistem secara periodik. Tinjauan periodik atau audit sistem dilakukan untuk menjamin sistem berjalan dengan baik, dengan cara memonitor sistem secara terus-menerus terhadap potensi masalah atau perlunya perubahan terhadap sistem. Sebagai contoh, saat user menemukan errors pada saat sistem digunakan, maka user dapat memberi umpan balik atau feedback kepada spesialis informasi guna meningkatkan kinerja sistem. Hal ini yang menjadikan system maintenance perlu dilakukan secara berkala, karena system maintenance akan senantiasa memastikan sistem baru yang di implementasikan berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan penggunaanya melalui mekanisme umpan balik.

  1. Menjaga Kemutakhiran Sistem (System Update)

Selain sebagai proses perbaikan kesalahan dan kajian pasca implementasi, system maintenance juga meliputi proses modifikasi terhadap sistem yang telah dibangun karena adanya perubahan dalam organisasi atau lingkungan bisnis. Sehingga, system maintenance menjaga kemutakhiran sistem (system update) melalui modifikasi-modifikasi sistem yang dilakukan.

 

Pertanyaan No. 4

 

Apa yang saudara ketahui tentang ERP (enterprice resource planning) dan bagaimana implementasi sistem informasi yang berbasiskan ERP. Jelaskan!

 

Jawaban:

 

Enterprise Resource Planning (ERP) merupakan suatu cara untuk mengelola sumber daya perusahaan dengan menggunakan teknologi informasi. Penggunaan ERP yang dilengkapi dengan hardware dan software untuk mengkoordinasi dan mengintegrasikan data informasi pada setiap area business processes untuk menghasilkan pengambilan keputusan yang cepat karena menyediakan analisa dan laporan keuangan, penjualan, laporan produksi dan inventori secara cepat dan akurat. Program ERP sangat membantu perusahaan yang memiliki bisnis proses yang luas, dengan menggunakan database dan reporting tools manajemen.

Konsep ERP

ERP mengintegrasikan fungsi-fungsi yang mendukung transaksi atau operasi sehari-hari dalam pengelolaan sumber daya perusahaan seperti sumber dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas. Sebuah sistem ERP mengintegrasikan informasi dan proses-proses yang berbasis informasi pada sebuah bagian atau antar bagian dalam suatu organisasi atau perusahaan. Sistem ERP terdiri atas beberapa sub sistem (modul) yaitu sistem finansial, sistem distribusi, sistem manufaktur, sistem inventori, dan sistem human resource. Masing-masing sub sistem terhubung dengan sebuah database terpusat yang menyimpan berbagai informasi yang dibutuhkan oleh masing-masing sub sistem. Sub sistem mewakili sebuah bagian fungsionalitas dari sebuah organisasi perusahaan. Software ERP mendukung pengoperasian yang efisien dari business processes dengan cara mengintegrasikan aktivitas-aktivitas dari keseluruhan bisnis termasuk sales, marketing, manufacturing, logistic, accounting, dan staffing.

Sistem ERP memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :

  1. Sistem ERP merupakan paket software yang didesain pada lingkungan client-server baik tradisional (berbasis desktop) maupun berbasis web.
  2. Sistem ERP mengintegrasikan mayoritas bisnis proses yang ada.
  3. Sistem ERP memproses seluruh transaksi organisasi perusahaan.
  4. Sistem ERP menggunakan database skala enterprise untuk penyimpanan data.
  5. Sistem ERP mengijinkan pengguna mengakses data secara real time.

Secara modular, software ERP biasanya terbagi atas modul utama yakni Operasi serta modul pendukung yakni Finansial dan Akunting serta Sumber Daya Manusia:

  1. Modul Operasi

General Logistics, Sales and Distribution, Materials Management, Logistics Execution, Quality Management, Plant Maintenance, Customer Service, Production Planning and Control, Project System, Environment Management.

  1. Modul Financial & Akuntansi

General Accounting, Financial Accounting, Controlling, Investment Management, Treasury, Enterprise Controlling.

  1. Modul Sumber Daya Manusia

Personnel Management, Personnel Time Management, Payroll, Training and Event Management, Organizational Management, Travel Management.

Berikut ini adalah sebagian kecil manfaat dengan diaplikasikannya ERP bagi perusahaan:

  1. Integrasi data keuangan

Untuk mengintegrasikan data keuangan sehingga top management bisa melihat dan mengontrol kinerja keuangan perusahaan dengan lebih baik.

  1. Standarisasi Proses Operasi

Menstandarkan proses operasi melalui implementasi best practice sehingga terjadi peningkatan produktivitas, penurunan inefisiensi dan peningkatan kualitas produk.

  1. Standarisasi Data dan Informasi

Menstandarkan data dan informasi melalui keseragaman pelaporan, terutama untuk perusahaan besar yang biasanya terdiri dari banyak business unit dengan jumlah dan jenis bisnis yg berbeda-beda.

Implementasi Sistem Informasi Berbasis ERP

Implementasi ERP pada perusahaan bertujuan untuk mempercepat proses bisnis, meningkatkan efisiensi, dan meraup pendapatan yang lebih besar. Namun, pada saat implementasi banyak faktor yang dapat menggagalkan implementasi dan merupakan masalah yang dihadapi antara lain, manajemen tidak menyediakan proyek tim yang terbaik pada proyek implementasi menyangkut kompetensi anggota tim, kredibilitas dan kreativitas tim proyek, kepemimpinan tim yang efektif, komitmen tim, tanggung jawab tim, jumlah tim yang memadai, tanggungjawab yang tumpang tindih pada tim, pendekatan kerja yang kurang jelas, tujuan yang tidak dipahami oleh tim proyek.

Banyak perusahaan yang ingin menerapkan ERP, namun perusahaan masih kesulitan untuk mengetahui cara implementasi yang efektif, terutama pada efektifitas tim proyek yang akan mengerjakan proyek implementasi. Semakin lama implementasi ERP akan berakibat pada peningkatan biaya yang relatif besar bagi perusahaan. Dalam implementasinya, pada program ERP terdapat dua tipe pengguna yaitu key user dan end user. Key user dipilih dari departemen yang terkait pada operasinya, biasanya selalu berhubungan dengan business process dan memiliki pengetahuan lebih di area kerjanya dan umumnya manager departemen. Key user akan mengembangkan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan pada sistem akhir yang diperlukan oleh end user. Sebagai tambahan, key user juga akan melakukan spesialisasi pada bagian-bagian sistem ERP dan berlaku sebagai pelatih, pendidik, advisors, help-desk resources, dan sebagai agen untuk end user.

Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari Sistem ERP, industri yang akan mengimplementasikan ERP harus mengikuti best practice process (proses umum terbaik) yang berlaku.  Secara keseluruhan proses penggunaan dan adopsi sistem ERP oleh pengguna di dalam perusahaan merupakan tanggung jawab beberapa orang yang dimasukkan dalam key user (team project), dan mereka berada di bawah seorang proyek manajer, serta mereka harus paham tentang ERP dan bisnis proses perusahaan. Beberapa langkah proses implementasi ERP pada perusahaan adalah sebagai berikut :

Manajemen organisasi perusahaan memilih dan menetapkan beberapa orang yang bertanggung jawab penuh terhadap persiapan dan penyelesaian ERP dengan arahan manajemen perusahaan yang disebut dengan key user. Kelompok key user dibentuk dan ditugaskan untuk memperkirakan potensi penggunaan suatu ERP, dalam menilai keberhasilan implementasi ERP yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Key user harus membantu untuk menentukan konsultan yang sesuai dan bekerjasama dengan mereka dalam mencari kebutuhan-kebutuhan yang lain dalam mempersiapkan implementasi ERP.

Dalam tahap implementasi bahwa konsultan berada dalam arahan key user, sebab sistem merupakan sebuah paket konfigurasi sistem informasi. Customization biasanya melibatkan hubungan yang kuat antara key user, dan konsultan. Key user menyesuaikan bisnis proses yang ada pada perusahaan dengan melakukan customization software ERP dan mengarahkan end user untuk menyediakan data-data yang dibutuhkan sistem ERP. Proses implementasi ERP dikatakan berakhir bila keluaran data-data dari hasil proses ERP dapat digunakan oleh perusahaan, serta end user sudah dapat mengerti dan memahami fungsinya masing-masing. Secara umum yang yang terlihat langsung dalam implementasi proses ERP adalah key user, untuk menggambarkan dan menentukan kebutuhan apa yang diperlukan oleh perusahaan.

Posted in Uncategorized | Comments Off on JAWABAN TAKE HOME EXAM SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

OUTSOURCING SISTEM INFORMASI PADA PERUSAHAAN

Latar Belakang.

Strategi outsourcing atau menyerahkan pekerjaan pada pihak ketiga pada pengadaan layanan teknologi informasi akhir-akhir ini semakin banyak digunakan oleh perusahaan. Tentunya banyak manfaat yang diperoleh dari strategi outsourcing ini, diantaranya berupa penghematan sumber daya dan perusahan dapat lebih berfokus pada kompetensi utamanya. Tetapi, dalam kenyataannya tidak semua inisiatif outsourcing ini berjalan dengan lancar. Banyak kasus terjadi dimana outsourcing justru dapat menyebabkan perusahaan mengeluarkan sumber daya ekstra untuk mengatasi gagalnya outsourcing tersebut. Oleh karena itu, perlu dipelajari resiko apa saja yang mungkin terjadi pada proses outsourcing, bagaimana mengukur atau memprediksi resiko tersebut serta bagaimana meminimalisasi dampaknya.

Penggunaan outsourcing merupakan upaya perusahaan dalam meningkatkan produktifitas untuk memperoleh keunggulan kompetitif dengan cara menggeser penggunaan sumberdaya yang dimilikinya untuk mengerjakan pekerjaan yang dapat menghasilkan value terbaik. Karena itu, pekerjaan yang di-outsourcing-kan biasanya bukanlah pekerjaan yang berhubungan langsung dengan inti bisnis perusahaan, melainkan pekerjaan-pekerjaan penunjang. Meski terkadang ada juga pekerjaan penting yang di-outsourcing-kan, namun hal tersebut hanya bersifat sementara dalam tenggat waktu jangka pendek.

Namun, pada prakteknya outsourcing umumnya lebih didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Disisi lain, kehadiran perusahaan outsourcing atau rekanan dalam pengadaan jasa di bidang Teknologi Informasi (TI) dapat dianggap sebagai alternatif yang efisien bagi banyak perusahaan. Dengan adanya perusahaan outsourcing di bidang TI, maka banyak perusahaan yang merasa dapat menghemat sumber daya baik sumber daya manusia, perangkat keras maupun biaya, sehingga perusahaan tersebut dapat lebih berfokus pada bisnis utamanya dan tidak terlalu menghabiskan energi untuk memikirkan aspek pengelolaan teknologi informasi. Manfaat yang diperoleh dari outsourcing meliputi penghematan biaya, meningkatnya fleksibilitas, kualitas layanan yang lebih baik, dan tersedia akses terhadap teknologi baru dengan resiko yang tidak terlalu besar bagi perusahaan. Outsourcing memungkinkan perusahaan lebih fokus pada apa yang benar-benar penting, sementara vendor atau penyedia layanan IT outsourcing berfokus pada keahlian terbaik mereka yaitu mengelola IT.

Fakta bahwa perusahaan makin hari makin mengandalkan rekanan di luar perusahaan untuk menangani kebutuhan teknologi informasinya tidak berarti bahwa outsourcing adalah obat yang mujarab, tidak juga berarti bahwa proses ini selalu berlangsung dengan lancar. Pengalaman outsourcing yang gagal juga sering terjadi, dimana rekanan gagal memenuhi kebutuhan yang diinginkan dan memberikan keuntungan yang diharapkan. Pengelolaan outsourcing tidaklah semudah melempar tanggung jawab ke pihak ketiga, sehingga tidak semua perusahaan berhasil dengan baik melakukan outsourcing. Beberapa perusahaan justru harus mengeluarkan sumber daya ekstra untuk mengatasi gagalnya proyek outsourcing karena berbagai sebab, misalnya karena ketidakmampuan perusahaan penyedia jasa outsourcing memenuhi tanggung jawab kualitas layanan yang sudah dijanjikan, atau biaya operasionalnya jauh lebih besar dari perkiraan semula.

Tujuan Penulisan

Paper ini ditulis untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi Manajemen, Program Magister Bisnis, Institut Pertanian Bogor. Tujuan paper ini adalah untuk menganalisis dan memberikan gambaran kepada pembaca mengenai manfaat dan kerugian dari pengembangan Sistem Informasi dengan menggunakan strategi Outsourcing. Dengan demikian, diharapkan dapat ditelusuri peluang-peluang resiko apa saja yang dapat terjadi dalam proses outsourcing sehingga dapat memberikan masukan dan bahan pertimbangan bagi perusahaan untuk melakukan outsourcing, khususnya di bidang TI.

Pengertian

Dalam rangka memenuhi pengadaan barang maupun jasa yang dibutuhkannya, pada dasarnya perusahaan dapat menyediakannya secara internal atau dengan cara melakukan kerjasama dengan pihak eksternal, yaitu melalui beberapa pola kerjasama diantaranya :

  • In Sourcing. Kebalikan dari outsourcing, dengan menerima pekerjaan dari perusahaan lain. Motivasi utamanya adalah dengan menjaga tingkat produktivitas dan penggunaan aset secara maksimal agar biaya satuannya dapat ditekan dimana hal ini akan meningkatkan keuntungan perusahaan. Dengan demikian kompetensi utamanya tidak hanya digunakan sendiri tetapi juga dapat digunakan oleh perusahaan lain yang akan meningkatkan keuntungan.
  • Co-Sourcing. Jenis hubungan pekerjaan dan aktivitas dimana hubungan antara perusahaan dan rekanan lebih erat dari sekedar hubungan outsourcing. Contohnya adalah dengan memperbantukan tenaga ahli pada perusahaan pemberi jasa untuk saling mendukung kegiatan masing-masing perusahaan.
  • Contracting. Merupakan bentuk penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga yang paling sederhana dan merupakan bentuk yang paling lama. Langkah ini adalah langkah berjangka pendek, hanya mempunyai arti taktis dan bukan merupakan bagian dari strategi (besar) perusahaan tetapi hanya untuk mencari cara yang praktis saja.
  • ·         Outsourcing. Penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja pekerjaan yang profesional dan berkelas dunia. Diperlukan pihak pemberi jasa yang menspesialisasikan dirinya pada jenis pekerjaan atau aktivitas yang akan diserahkan. Menurut The British Computer Society, outsourcing adalah kegiatan memindahkan aktivitas dan layanan pada pihak lain diluar perusahaan. Dengan definisi yang demikian luas dari outsourcing ini, konsep ini seringkali juga disamakan dengan konsep lain seperti sub kontrak, supplier, proyek atau istilah lain yang berbeda-beda dilapangan, namun pada dasarnya adalah sama, yaitu pemindahan layanan kepada pihak lain. 

 

Tujuan Outsourcing

Ada banyak pertimbangan kenapa sebuah perusahaan mengambil outsourcing sebagai strategi untuk operasional TI yang efektif. Selain pertimbangan biaya tentunya, adalagi pertimbangan lain yang menjadi faktor pendorong terbesar seperti penyesuaian antara strategi TI dan strategi bisnis perusahaan. Saat ini misalnya, hanya sedikit perusahaan yang dapat memisahkan antara strategi TI danstrategi bisnisnya. Pada praktiknya dilapangan strategi TI dan strategi bisnis saling berkaitan, dan kemampuan TI dalam banyak kasus menentukan bagaimana strategi bisnis.

Dalam kaitannya dengan strategi, ada banyak pendekatan lain yang umumnya dilakukan dilakukan perusahaan misalnya adalah dengan memisahkan sistem strategis seperti basisdata pemasaran dari sistem komoditas seperti penggajian, penggudangan, atau aplikasi lain. Sementara beberapa perusahaan mencoba untuk mengoutsource pengembangan dari sistem yang baru atau menggunakan sistem yang lebih stabil seperti operasional dan data center.

Tujuan yang ingin dicapai perusahaan dari pelaksanaan outsourcing adalah:

  • Mempercepat keuntungan reengineering
  • Mendapatkan akses pada kemampuan kelas dunia
  • Memperoleh suntikan kas
  • Membebaskan sumber daya untuk kepentingan lain
  • Membebaskan diri dari fungsi yang sulit dikelola atau dikendalikan
  • Memperbaiki fokus perusahaan
  • Memperoleh dana kapital
  • Mengurangi biaya operasi
  • Mengurangi resiko usaha
  • Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki didalam perusahaan

 

 

Kontrak Outsourcing

Bentuk kontrak outsourcing dapat berupa:

  • Menambahkan pengelolaan TI dengan penambahan sumberdaya dari pihak luar
  • Mengkontrakkan sistem secara utuh pada pihakluar
  • Mengkontrakkan hanya sistem operasional dan fasilitasnya.

 

Dari bentuk bentuk kontrak diatas outsourcing dapat dikategorikan menjadi 4 macam yang menurut The Computer Sciences Corporation (CSC) Index adalah sebagai berikut:

  • Total outsourcing, outsourcing secara total pada seluruh komponen TI
  • Selective outsourcing, outsourcing hanya pada komponen-komponen tertentu
  • Transitional outsourcing, outsourcing yang fokusnya pada pembuatan sistem baru
  • Transformational outsourcing, outsourcing yang fokusnya pada pembangunan dan operasional dari sistem baru

 

 

Bidang Outsourcing Teknologi Informasi

Sebenarnya outsourcing TI dapat meliputi semua layanan TI yang dibutuhkan perusahaan, Price Waterhouse mencantumkan list pekerjaan yang dapat dioutsourcingkan antara lain:

  • Pemeliharaan aplikasi (Applications maintenance)
  • Pengembangan dan implementasi aplikasi (Application development and implementation)
  • Data centre operations
  • End-user support
  • Help desk
  • Dukungan teknis (Technical support)
  • Perancangan dan design jaringan
  • Network operations
  • Systems analysis and design
  • Business analysis
    • ·         Systems and technical strategy

 

Permasalahan Outsourcing

Ada beberapa masalah yang dihadapi perusahaan dalam penggunaan Outsourcing adalah:

  • Penentuan partner outsourcing. Hal ini menjadi sangat krusial karena partner outsourcing harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan perusahaan serta menjaga hubungan baik dengan partner outsourcing.
  • Belum adanya paying hukum yang memadai untuk melindungi kepentingan kedua belah pihak yang terlibat dalam outsourcing termasuk juga untuk melindungi hak-hak tenaga kerja outsource, sehingga mereka memiliki kepastian hukum.
  • Pelanggaran ketentuan outsourcing. Demi mengurangi biaya produksi, perusahaan terkadang melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku.

 

Risiko Outsourcing

Pada banyak kasus outsourcing bidang teknologi informasi, menurut Falahah (2006) dapat diidentifikasi dua konsekuensi negatif utama dan empat skenario utama. Konsekuensi negatif tersebut adalah:

  1. Eskalasi biaya

Eskalasi biaya mengacu pada semua pembengkakan biaya akibat pengerjaan operasi sistem informasi yang berjalan melebihi kontrak awalnya.

  1. Penurunan kualitas layanan

Penurunan layanan mengacu pada semua penurunan dalam tingkat layanan dibandingkan apa yang sudah disepakati pada kontrak.

Adapun empat skenario yang berhubungan dengan konsekuensi ini adalah : lock-in, mahalnya biaya amandemen kontrak, biaya transisi dan manajemen yang tidak diharapkan, dan perselisihan dan tuntutan hukum.

Scenario: Lock-in terjadi ketika klien tidak dapat melakukan kerjasama tanpa harus mengorbankan sebagian atau seluruh asetnya kepada rekanan. Karena perilaku oportunistik dari rekanan yang terlalu menekan klien sehingga akan terjadi biaya penyelamatan persetujuan kontrak.

Amandemen kontrak yang mahal terjadi akibat adanya pendefinisian ulang sebagian atau seluruh klausa kontrak. Karena pihak yang terkait dengan kontrak tidak dapat meramalkan semua keadaan yang mungkin terjadi, maka mereka akan mengandalkan pada kontrak yang tidak lengkap dan semua amandemen akan menimbulkan resiko biaya.

Biaya transisi dan manajemen yang tidak diharapkan mengacu pada tidak terlihatnya dan/atau salah perhitungan terhadap biaya tidak langsung. Biaya transisi meliputi biaya setup, biaya instalasi ulang, biaya relokasi, transfer peralatan dan penyewaan, dan sebagainya. Biaya manajemen meliputi sumber daya yang harus ditempatkan untuk mengelola kontrak outsourcing.

Pelanggaran dan tuntutan hukum mengacu pada kontroversi yang berhubungan dengan representasi pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak, dalam bernegosiasi, menetapkan, memelihara, mengubah, atau mencari kesepakatan atas kondisi kontrak, dan proses yang berhubungan dengan perangkat hukum.

Skenario di atas tentunya bukanlah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Skenario tersebut berada di dalam batasan kelayakan yang dikendalikan oleh client. Oleh karena itu, skenario tersebut dapat diatasi melalui mekanisme mitigasi resiko yang mempengaruhi kemungkinan atau membantu untuk menghindari semua kemungkinan. Oleh karena itu, penentuan resiko hanya berarti jika kemungkinan terjadinya sebuah scenario dikurangi/diperlunak dengan perencanaan intervensi mitigasi yang efektif. Dengan kata lain, kita perlu memperhitungkan mekanisme yang diperlukan untuk pengukuran resiko.

Manfaat dan Kerugian Outsourcing

Outsourcing sendiri pada prakteknya dilapangan tidak berarti tanpa resiko sama sekali. Resiko–resiko yang terjadi hanya bisa diminimalisir, sehingga penting bagi perusahaan untuk melakukan self assesment terhadap kondisi perusahaannya. Baik keuangan, kesiapan hingga perencanaan jangka panjang kedepan. Keuntungan dari praktik outsourcing antara lain adalah:

  • Skalabilitas & Kemampuan Beradaptasi. Membangun dan memelihara infrastruktur IT membutuhkan banyak waktu. Sektor IT menjadi lebih kompetitif, sehingga mengambil terlalu banyak waktu untuk penerapan satu teknologi akan sangat berisiko. IT outsourcing memungkinkan percepatan adaptasi dan transformasi bisnis Anda terhadap perubahan pasar atau ancaman para pesaing.
  • Penghematan Biaya (Cost Saving). Kecenderungan kegiatan bisnis yang saat ini terlihat jelas adalah bahwa perusahaan menggeser aplikasi bisnis berbasis web.
  • Teknologi yang maju. IT sourcing memberikan kemajuan teknologi kepada organisasi klien dan pengalaman personil dan teknologi tersebut tergantung  kepada vendor sebagai penyedia IT outsourcing tersebut.
  • Pemusatan Aktivitas Inti. Perusahaan dapat lebih berkonsentrasi pada kegiatan operasinya dan dapat mengendalikan jumlah tugas sehingga kegiatan operasi perusahaan dapat menjadi sempurna.
  • Kebutuhan akan personil IT. Penggunaan IT sourcing oleh suatu perusahaan menggambarkan kurangnya personil IT dalam satu perusahaan tersebut, vendor memiliki resources yang lebih besar maka perusahaan yang menggunakan IT outsourcing staff dapat berasal dari vendor.
  • Fleksibilitas Penggunaan Teknologi. Outsourcing akan dipertimbangkan sebagai langkah manajemen resiko yang lebih baik dengan begitu segala resiko yang dihadapi dilimpahkan kepada vendor yang bertanggung jawab dalam memperbaharui teknologi.

 

Sedangkan kelemahan dari outsourcing adalah:

  • Produktivitas justru menurun jika perusahaan outsourcing yang dipilih tidak kompeten
  • Wrong man on the wrong place jika proses seleksi, training dan penempatan tidak dilakukan secara cermat oleh perusahaan outsourcing
  • Terkena kewajiban ketenagakerjaan jika perjanjian kerjasama dengan perusahaan outsourcing tidak diatur dengan tegas dan jelas diawal kerja sama
  • Regulasi yang belum kondusif akan membuat penentuan core dan non core juga belum jelas
  • Pemilihan perusahaan jasa outsourcing yang salah bisa berakibat beralihnya status hubungan kerja dari perusahaan pemberi jasa pekerja ke perusahaan penerima jasa pekerja
  • Salah satu komponen yang penting dalam outsourcing adalah kontrak, dan ini merupakan resiko yang harus diperhatikan jika tidak maka IT outsourcing akan menjadi masalah bagi perusahaan
  • Informasi merupakan asset berharga bagi perusahaan, jika tidak dikelola dengan baik maka akan jadi masalah bagi perusahaan tersebut
  • Dalam menetapkan strategi hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan IT outsourcing
  • Maintaining hubungan dengan vendor
  • Mangerial Control issue
  • Ada biaya yang diluar jasa standar seperti biaya pencarian vendor, biaya transisi, dan biaya post outsourcing.

 

KESIMPULAN

Outsourcing merupakan satu dari sedemikian banyak cara untuk mengelola sumber daya TI. Hal yang menjadi perhatian besar adalah mengenai perjanjian kontrak outsourcing yang meliputi tingkat layanan dan biaya, kontrak dan hubungan kerja, penjadwalan hingga tujuan strategis. Dan pelaksanaan dilapangan yang meliputi kepuasan pelanggan, pengelolaan karyawan dan penyesuaian tujuan serta sasaran.

Adalah penting untuk memahami dan mempertanyakan tujuan strategis untuk melakukan outsourcing, yaitu Operasional TI yang lebih baik, Peningkatan integrasi TI pada organisasi, dan  Penyerapan teknologi terbaru bagi perusahaan. Tujuan strategis ini harus dipahami dengan baik oleh perusahaan pengguna maupun penyedia agar dapat tercipta sinergi yang lebih baik. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kedua belah pihak.

Kesuksesan keunggulan kompetitif suatu organisasi dengan menerapkan IT outsourcing berdasarkan keuntungan dan kelemahan harus diterapkan sehingga perusahaan dapat fokus terhadap core business-nya. Dan pemilihan mengenai mana yang akan digunakan dalam suatu perusahaan, sebenarnya tergantung dari ruang lingkup, budget, resiko, tingkat kegunaan, dan sejauh mana kita memerlukannya. Kalau ruang lingkup itu tidaklah terlalu besar dan sangat sederhana, maka jalan insourcing atau self-sourcing adalah langkah yang terbaik. Tetapi kalau sudah mencangkup area yang lebih luas lagi, maka outsourcing adalah jalannya.

Dilihat dari segi resiko dan tingkat kegunaannya, ini tergantung dari bentuk dan kegiatan bisnis perusahaan. Penjelasan diatas terdapat beberapa keuntungan dan kelemahan dari outsourcing tersebut, jika perusahaan dapat mengintegrasikan keuntungan dan kelemahan tersebut maka perusahaan pasti dapat menjalankan sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka. Termasuk yang paling penting adalah bagaimana penyediaan Sumber daya baik manusia maupun sistemnya sehingga sesuai dengan kebutuhan.

Dalam implementasinya diperusahaan, perlu dilakukan banyak pengkajian bagaimana peran outsourcing kedepan yang sangat bergantung pada kondisi dan kesiapan perusahaan bukan hanya pada biaya yang dapat dihemat. Perusahaan perlu menyesuaikan dan melakukan lebih banyak konsolidasi internal sebelum memutuskan untuk menggunakan jasa outsourcing.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al fatta, Hanif, 2007, Analisis dan perancangan system informasi untuk keunggulan perusahaan dan organisasi kelas dunia, Andi offset – STMIK AMIKOM Yogyakarta

Falahah, 2006, “Resiko Outsourcing Pada Teknologi Informasi”, Proceeding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI 2006), Yogyakarta.

Priandoyo, Anjar, 2005 , “Operasional Teknologi Informasi yang Efektif dengan Outsourcing”. Proceeding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2005 (SNATI 2005), Yogyakarta.

Setiawan, Antonius Singgih, 2007, “Hubungan Strategi Outsourcing Information Technology Dan Keberhasilan Outsourcing Information Technology, (Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan yang Terdaftar di BEJ), Tesis S2 Magister Akuntansi Universitas Diponegoro, Semarang.

Wahid, Fathul, “Adopsi Metode Pengembangan Sistem Informasi Di Indonesia: Studi Eskploratori Awal” Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI 2006), Yogyakarta.

Komentar Terhadap Blog

  1. http://www.setiabudi.name/archives/1141/comment-page-2#comment-1843

Your comment is awaiting moderation.

July 30th, 2010 at 14:31

IT outsourcing merupakan jalan yang terbaik untuk solusi permasalahan IT di zaman era teknologi yang setiap saat selalu berubah dan suatu perusahaan hendaknya juga melibatkan internal resourcing untk memonitor jalannya IT outsourcing agar selalu “work on the right track”

  1. http://hnindito.wordpress.com/2009/11/28/alih-daya-teknologi-informasi/#comment-5

menurut saya untuk perusahaan alih daya IT ini menarik karena untuk masalah IT dapat teratasi dengan cepat namun dalam hal penyimpanan data ataupun privasi suatu perusahaan apakah di jamin oleh perusahaan alih daya IT tersebut?

Oleh: budhi dharma on Juli 30, 2010
at 7:41 am

Balas

Komentar Anda sedang menunggu moderasi.

  1. 3.      http://www.indodatapratama.co.id/2010/04/4-alasan-melakukan-alih-daya-digitalisasi/comment-page-1/#comment-6

budhi dharma on July 30th, 2010 at 2:50 pm:

outsourcing digitalisasi ini merupakan langkah yang penting dalam proses penyimpanan data,namun sebagai back up kadang paper data juga diperlukan jadi outsourcing digitalisasi ini jangan sampai menggantikan paper base hingga 100%

  1. 4.      http://raifertilini.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/14/konversi-sistem-informasi/#comment-5

Komentar Anda sedang menunggu moderasi.

Juli 30, 2010 pukul 8:00 am

saya setuju dengan konversi Sistem informasi malah sangat di rekomendasikan karena implementasi Sistem Informasi setiap tahun akan berubah dan selalu mengikuti perkembangan jaman namun konversi juga harus di lakukan dengan hati-hati jangan terlalu terburu buru

Balas

  1. http://raifertilini.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/14/71/#comment-6

Komentar Anda sedang menunggu moderasi.

Juli 30, 2010 pukul 8:19 am

untuk pengembangan Enterprise Resource Planning dibutuhkan effort yang tinggi karena selain membutuhkan waktu yang relatif Lama dan juga mahal namun jika sudah terimplan dengan baik akan sangat efektif dengan jalannya produksi

Balas

  1. http://raifertilini.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/12/it-outsourcing-sebagai-salah-satu-alternatif-pengembangan-sistem-informasi/#comment-7

Juli 30, 2010 pukul 8:26 am

Sebaiknya utk outsourcing IT dalam pengembangan IT kita juga harus melihat siapa vendor nya dilihat dari rekomendasi dan juga dari pengalaman dia menghandle perusahaan perusahaan dan sebaiknya yg telah menangani perusahaan besar

Balas

  1. http://simfeunlam.wordpress.com/2007/04/15/meski-penting-penerapan-bca-tetap-terganjal/#comment-141

. budhi dharmaJuly 30, 2010

Business Continuity and availability sebenarnya penting untuk keberlangsungan bisnis diharapkan untuk ke depannya negara kita juga aware dengan pentingnya memiliki BC&A ini

Reply

  1. http://raifertilini.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/14/perbedaan-antara-pengembangan-software-dan-system-informasi/#comment-8

Juli 30, 2010 pukul 8:44 am

dalam pengembangan Sistem Informasi di perlukan juga pengembangan Software agar saling bekesinambungan dan juga dapat menghasilkan suatu sistem Teknologi Informasi yang Handal

Balas

  1. http://pimpimarda.blog.com/2010/01/10/it-outsourcing/comment-page-1/#comment-58

budhi dharma

30-Jul-2010 31

IT Outsourcing memang di perlukan untuk pengembangan baik Utk SISFO maupun Hardware tetapi untuk dari segi keamanan data apakah bisa dijamin?apalagi untuk implan di Bank apakah ada jaminan keamanan data?

  1. https://rivafauziah.wordpress.com/2008/01/26/it-outsourcing/

untuk penerapan outsource IT di dunia bisnis sangat cocok utk pemeliharaan hardware dan software sehingga cost yang di keluarkan oleh suatu perusahaan tidak terlalu besar

     oleh budhi dharma Juli 30, 2010 at 9:15 am

Balas

  1. http://www.iimrusyamsi.com/2008/04/10/it-outsourcing-bisnis-masa-depan/#comment-740

budhi dharma Says: Your comment is awaiting moderation.
July 30th, 2010 at 4:20 pm

sebaiknya untuk vendor outsource IT juga memperhatikan SDM nya karena banyak tenaga tenaga ahli IT yang bekerja untuk vendor IT di luar negeri sehingga seharusnya vendor Outsource IT di Indonesia juga highly competent

12.  http://theoutsourcingblog.com/2009/08/12/it-development-outsourcing/comment-page-1/#comment-1769

budhi dharma says:

Your comment is awaiting moderation.

July 30, 2010 at 2:26 am

very interesting article here,but i must say that outsource IT are the most efficiency cost in any way but what about the security of it?specially on tha bank case if the users are from the bank Company is it safe if we use Outsource IT?because we know there are so many confidential data on it

13.  http://www.masjoe.com/the-best-reasons-for-your-to-outsource-web-design.html/comment-page-4#comment-2057

  1. budhi dharma
    July 30, 2010 at 4:39 PM

really good idea for the web design outsource so we can arrange our budget wisely enough to create web but the question is do they always maintain and updating the web enough?

14.  http://blogs.konsep.net/micowendy/2008/portal-outsourcing-it-consultant-pm-indonesia/comment-page-1/#comment-987

budhi dharma Your comment is awaiting moderation.
July 30th, 2010 on 4:49 pm

thanks for the info,jadi kita bisa pick vendor more wisely

15.  http://riyantosuwito.wordpress.com/2009/04/01/business-process-outsourcing-untuk-ukm/#comment-79

  1. budhi dharma mengatakan:

Juli 30, 2010 pukul 9:48 am

saya setuju implan Business Process Outsourcing IT juga dapat memajukan segmen bisnis ukm kita

Balas

  1. http://onvalue.wordpress.com/2007/10/10/perana-outsourcing-teknologi-informasi-dalam-meningkatkan-keunggulan-kompetitif/#comment-26

 

budhi dharma, di/pada Juli 30, 2010 pada 9:58 am Dikatakan: r Komentar Anda sedang menunggu moderasi.

saya sependapat dengan artikel ini sudah saatnya suatu bisnis juga dibantu dengan perkembangan IT

  1. http://ariswan.wordpress.com/2008/05/23/outsourcing-sebagai-solusi-dunia-usaha/#comment-14

 

 budhi dharma mengatakan:

Juli 30, 2010 pukul 10:00 am

artikel yang menarik,trend outsourcing IT sangat menjanjikan namun jangan melupakan dari internal jika di kolaborasikan akan menjadikan konsolidasi IT yang handal

Balas

  1. http://blog.i-tech.ac.id/deasy/2009/08/11/kasus-it-outsourcing-pengolahan-data/#comment-88

budhi dharma // Jul 30, 2010 at 8:07 pm

saya tertarik dengan artikel ini memang outsource It merupakan jalan yang baik utk pengembangan sisfo tapi jangan 100 persen terlalu tergantung dengan outsource IT

Your comment is awaiting moderation.

 

19.  http://cireks.blogspot.com/2008/07/dasar-hukum-outsourcing.html?showComment

budhi dharma mengatakan…

terima kasih atas info mengenai dasar hukum outsourcing

30 Juli, 2010

 

20.  http://www.biskom.web.id/2008/07/22/outsourcing-solusi-sistem-informasi-masa-depan.bwi/comment-page-1#comment-1602

budhi dharma
Your comment is awaiting moderation.

ya saya setuju dengan outsourcing IT sebagai solusi SISFO karena selain penghematan dan juga efisensi waktu

Posted in Uncategorized | 4 Comments

Hello world!

Welcome to Student.mb.ipb.ac.id Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Student.mb.ipb.ac.id Blogs

Posted in Uncategorized | 1 Comment